Thursday, December 12, 2013

PENGARUH KONSENTRASI MINERAL TERHADAP SALINITAS AIR LAUT

KATA PENGANTAR


            Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Mahaesa atas limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh Konsentrasi Mineral terhadap Salinitas Air Laut”.
            Makalah ini menjelaskan tentang kandungan mineral dalam air laut, salinitas air laut, serta pengaruh konsentrasi mineral terhadap salinitas air laut.
            Perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada : Ibu Dosen ST. Fauziah S.Si., M.Si. mata kuliah Oseanologi Pendahuluan untuk bidang kimia atas tugas yang diberikan sehingga menambah wawasan kami akan kandungan mineral air laut dan kadar salinitas air laut, demikian pula kepada teman-teman yang turut memberi sumbang saran dalam penyelesaian makalah sebagaimana yang kami sajikan.
            Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, untuk itu dari lubuk hati kami yang paling dalam memohon saran dan kritik yang sifatnya membangun dan mendorong membuka cakrawala pemahaman akan laut dan kandungan didalamnya terutama unsur-unsur kimia terlarut didalamnya.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.

Makassar, 18 April 2013


Risky Nurhikmayani




BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

            Air laut memiliki rasa asin. Ada dua petunjuk yang dapat memberikan kita jawaban akan hal ini. Pertama, air "tawar" tidak sepenuhnya bebas dari garam terlarut. Bahkan air hujan memiliki jejak zat terlarut di dalamnya, yang ikut tercampur sewaktu air hujan melewati atmosfer. Ketika air hujan melewati tanah dan merembes melalui bebatuan, ia akan melarutkan beberapa mineral, proses ini disebut dengan pelapukan. Air tanah ini juga merupakan air yang kita minum, dan tentu saja, kita tidak bisa merasakan rasa asin mineral garam karena konsentrasinya yang terlalu rendah.
Selanjutnya, air yang mengandung sejumlah kecil mineral atau garam terlarut ini akan mencapai sungai dan terus mengalir menuju ke danau atau lautan. Namun, penambahan tahunan dari garam terlarut oleh sungai hanya merupakan jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah garam di laut. Diperkirakan, garam-garam terlarut yang dibawa oleh semua sungai di dunia akan memiliki jumlah yang sama dengan garam di laut setelah sekitar 200 hingga 300 juta tahun.
Petunjuk kedua tentang bagaimana laut terasa asin adalah adanya danau garam seperti Great Salt Lake dan Laut Mati. Keduanya sekitar 10 kali lebih asin daripada air laut. Hal ini karena danau adalah tempat penyimpanan sementara untuk air. Sungai akan membawa air ke danau, dan sungai lainnya akan membawa air dari danau. Dengan demikian, danau dapat dikatakan hanya merupakan bagian yang luas dalam saluran sungai yang berisi air. Dimana air mengalir di satu ujung dan keluar di ujung yang lain dari danau.
Great Salt Lake, Laut Mati dan danau garam lainnya tidak memiliki saluran keluar. Semua air yang mengalir ke danau ini lolos hanya melalui penguapan. Sementara air menguap, garam-garam terlarut akan tertinggal. Setelah bertahun-tahun air masuk sungai dan menguap, kandungan garam dari air danau akan mencapai tingkat yang sangat tinggi. Proses yang sama juga lah yang membuat air laut menjadi asin. Sungai membawa garam terlarut ke laut. Air menguap dari lautan untuk jatuh lagi sebagai hujan dan kembali menuju sungai, tetapi garam tetap tertinggal di laut. Dan karena volume lautan yang sangat besar, maka dibutuhkan waktu selama ratusan juta tahun dari aliran sungai untuk mengisi garam sampai mencapai ke tingkat yang sekarang ini.
Namun, kini para ilmuwan telah mengetahui bahwa sungai bukan lah satu-satunya sumber garam terlarut. Terdapat fitur di puncak pegunungan laut yang dikenal sebagai lubang hidrotermal, yang merupakan tempat di dasar laut dimana air laut akan meresap ke dalam batuan kerak samudera, selanjutnya mengalami proses pemanasan, dan melarutkan beberapa mineral dari kerak samudera ke dalam laut. Karena air panas akan lebih mudah dalam melarutkan mineral. Maka lebih banyak mineral yang terlarut untuk memberikan kontribusi pada salinitas air laut.
Air laut memiliki kadar garam rata-rata 3,5%. Artinya dalam 1 liter (1000 mL) air laut terdapat 35 gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur/NaCl).
Uraian diatas menunjukkan bahwa kadar keasinan atau salinitas suatu laut ditentukan oleh kandungan mineral yang terlarut di dalamnya. Berdasarkan latar belakang tersebut maka dibuatlah makalah yang berjudul “Pengaruh Konsentrasi Mineral terhadap Salinitas Air Laut”.

            Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dirumuskan sebagai berikut :
1.    Apasajakah mineral yang terkandung di dalam air laut?
2.    Bagaimanakah salinitas air laut?
3.    Bagaimana pengaruh konsentrasi mineral terhadap salinitas air laut?


            Adapun tujuan yang akan dicapai adalah :
1.    Untuk mengetahui mineral yang terkandung di dalam air laut.
2.    Untuk mengetahui salinitas air laut.
3.    Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi mineral terhadap salinitas air laut.

            Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah :
1.    Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa dalam hal kandungan zat dalam air laut beserta salinitas air laut.
2.    Mahasiswa mampu memahami bahwa dengan perubahan terhadap konsentrasi mineral akan menyebabkan perubahan terhadap kadar salinitas air laut.



Air laut memiliki rasa yang berbeda dengan air tawar yakni adanya rasa asin pada air laut. Mula-mula diperkirakan bahwa zat-zat kimia yang menyebabkan air laut asin berasal dari darat yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke laut, entah itu dari pengikisan batu-batuan darat, dari tanah longsor, dari air hujan atau dari gejala alam lainnya, yang terbawa oleh air sungai ke laut. Jika hal ini benar tentunya susunan kimiawi air sungai tidak akan berbeda dengan susunan kimiawi air laut. Namun tabel 2 menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam susunan kimiawi kedua macam air tersebut. Jadi dugaan itu tidak benar. Lalu dari mana sebenarnya asal garam-garam tersebut.
Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai bahwa air laut makin lama makin asin. Air laut ini merupakan air dari laut atau samudra. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Air laut memang berasa asin karena memiliki kadar garam rata-rata 3,5%. Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah.  Artinya dalam 1 liter air laut (1000 ml) terdapat 35 gr. Garam.  Kandungan garam di setiap laut berbeda kandungannya. Laut yang paling tawar adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya merupakan bagian dari laut Baltik. Laut yang paling asin adalah Laut Merah (dimana suhu tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit air masuk dari sungai-sungai). Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya Natrium, Kalium, Kalsium, dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tersebut membawa garam. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat menghasilkan garam yang terdapat pada batu-batuan. Lama-kelamaan air laut menjdai asin karena banyak mengandung garam.
Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan dan menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi.
Kadar garam-garaman dalam air laut mempengaruhi sifat fisis air laut seperti densitas, kompresibilitas, titik beku dan temperatur. Beberapa sifat seperti viskositas, daya serap cahaya tidak terpengaruh signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut adalah daya hantar listrik dan tekanan osmosis. Zat-zat garam-garaman atau mineral yang utama yang terkandung dalam air laut adalah Klorida (55%), Natrium (31%), Sulfat (8%), Magnesium (4%), Kalsium (1%), Potasium (1%) dan sisanya kurang dari 1% terdiri dari Brom, Stronsium, Flour, dan Boron.
Unsur-unsur utama ini memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap kadar garam di lautan. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
1.      Klorida
Klorida banyak ditemukan di alam, hal ini di karenakan sifatnya yang mudah larut. Kandungan klorida di alam berkisar < 1 mg/l sampai dengan beberapa ribu mg/ldi dalam air laut. Air buangan industri kebanyakan menaikkan kandungan klorida demikian juga manusia dan hewan membuang material klorida dan nitrogen yang tinggi. Kadar Cl- dalam air dibatasi oleh standar untuk berbagai pemanfaatan yaitu air minum, irigasi dan konstruksi.
Konsentrasi 250 mg/l unsure ini dalam air merupakan batas maksimal konsentrasi yang dapat mengakibatkan timbulnya rasa asin. Konsentrasi klorida dalam air dapat meningkat dengan tiba-tiba dengan adanya kontak dengan air bekas. Klorida mencapai air alam dengan banyak cara. Kotoran manusia khususnya urine, mengandung klorida dalam jumlah yang kira-kira sama dengan klorida yang dikonsumsi lewat makanan dan air. Jumlah ini rata-rata kira-kira 6 gr klorida perorangan perhari dan menambah jumlah Cl dalam air bekas kira-kira 15 mg/l di atas konsentrasi di dalam air yang membawanya, disamping itu banyak air buangan dari industri yang mengandung klorida dalam jumlah yang cukup besar.
2.      Kalium
Dalam air laut, jumlah Kalium jauh lebih sedikit daripada jumlah Natrium, tetapi di dalam batuan endapan jumlah Kalium lebih banyak dibandingkan jumlah Natrium karena unsur ini tidak mudah lepas dari senyawanya dan karena unsur ini sangat reaktif sehingga ion kalium mudah terikat dengan ion lainnya. Bukti tertentu menjelaskan bahwa sel-sel kehidupan bertanggung jawab terhadap pengambilan Kalium dari laut dalam jumlah besar. Organisme-organisme laut mengabsorpsi Kalium ke dalam sel-sel tubuh mereka. Apabila organisme-organisme ini mati, mereka akan menyatu dengan batu-batuan di dasar laut bersama Kaliumnya.
3.      Fosfat
Fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua organisme untuk pertumbuhan dan sumber energi. Fosfor di dalam air laut, berada dalam bentuk senyawa organik dan anorganik. Dalam bentuk senyawa organik, fosfor dapat berupa gula fosfat dan hasil oksidasinya, nukloeprotein dan fosfo protein. Sedangkan dalam bentuk senyawa anorganik meliputi ortofosfat dan polifosfat. Senyawa anorganik fosfat dalam air laut pada umumnya berada dalam bentuk ion (orto) asam fosfat (H3PO4), dimana 10% sebagai ion fosfat dan 90% dalam bentuk HPO42-. Fosfat merupakan unsur yang penting dalam pembentukan protein dan membantu proses metabolisme sel suatu organisme
Sumber fosfat diperairan laut pada wilayah pesisir dan paparan benua adalah sungai. Karena sungai membawa hanyutan sampah maupun sumber fosfat daratan lainnya, sehingga sumber fosfat dimuara sungai lebih besar dari sekitarnya. Keberadaan fosfat di dalam air akan terurai menjadi senyawa ionisasi, antara lain dalam bentuk ion H2PO4-, HPO42-, PO43-. Fosfat diabsorpsi oleh fitoplankton dan seterusnya masuk kedalam rantai makanan. Senyawa fosfat dalam perairan berasal daari sumber alami seperti erosi tanah, buangan dari hewan dan pelapukan tumbuhan, dan dari laut sendiri. Peningkatan kadar fosfat dalam air laut, akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi (blooming) fitoplankton yang akhirnya dapat menyebabkan kematian ikan secara massal. Batas optimum fosfat untuk pertumbuhan plankton adalah 0,27 – 5,51 mg/liter.
Fosfat dalam air laut berbentuk ion fosfat. Dipermukaan air, fosfat di angkut oleh fitoplankton sejak proses fotosintesis. Konsentrasi fosfat di atas 0,3 µm akan menyebabkan kecepatan pertumbuhan pada banyak spesies fitoplankton. Untuk konsentrasi dibawah 0,3 µm ada bagian sel yang cocok menghalangi dan sel fosfat kurang diproduksi. Mungkin hal ini tidak akan terjadi di laut sejak NO3 selalu habis sebelum PO4 jatuh ke tingkat yang kritis. Pada musim panas, permukaan air mendekati 50% seperti organik-P. Di laut dalam kebanyakan P berbentuk inorganik. Di musim dingin hampir semua P adalah inorganik. Variasi di perairan pantai terjadi karena proses upwelling dan kelimpahan fitoplankton. Pencampuran yang terjadi dipermukaan pada musim dingin dapat disebabkan oleh bentuk linear di air dangkal. Setelah musim dingin dan musim panas kelimpahan fosfat akan sangat berkurang.
Dalam perairan laut yang normal, rasio N/P adalah sebesar 15:1. Ratio N/P yang meningkat potensial menimbulkan blooming atau eutrofikasiperairan, dimana terjadi pertumbuhan fitoplankton yang tidak terkendali. Eutrofikasi potensial berdampak negatif terhadap lingkungan, karena berkurangnya oksigen terlarut yang mengakibatkan kematian organisme akuatik lainnya (asphyxiation), selain keracunan karena zat toksin yang diproduksi oleh fitoplankton (genus Dinoflagelata). Fitoplankton mengakumulasi N, P, dan C dalam tubuhnya, masing – masing dengan nilai CF (concentration factor) 3 x 104 untuk P, 16(3 x 104) untuk N dan 4 x 103 untuk C.
4.      Natrium
Natrium adalah termasuk golongan alkali. Bersifat sangat reaktif sehingga unsur-unsur ini tidak ditemukan dalam keadaan bebas di alam, tetapi sebagai ion posistif (M+) dalam senyawa ion. Kebanyakan senyawa yang larut dalam air sehingga logam ini banyak terdapat di air laut yang lebih tinggi daripada kalium. Ion Na bersama dengan klorida dapat membentuk garam yang dikenal dengan garam dapur (NaCl).
5.      Magnesium
Magnesium hidroksida umum diproduksi dengan proses pengendapan dari lautan magnesium dan proses pengendapan dari air laut. Senyawa ini banyak digunakan di industri farmasi/obat dalam sediaan obat maag dan obat lainnya, sedangkan di industri kimia banyak digunakan dalam proses pemurnian gula, pengeringan produk makanan, bahan tambahan residu minyak baker.
6.      Sulfur
Sebagian besar belerang yang terdapat di air laut adalah S (IV) dalam ion sulfat (SO4-). Dalam kondisi anaerobik ion SO4- dapat direduksi oleh aktivitas bakteri menjadi H2S, HS-, atau garam sulfit yang tidak larut. Dalam air larut ion sulfat dapat berasal dari banyak sumber . Oksidasi dari mineral-mineral sulfit dipengaruhi oleh mikroorganisme, seperti pyrit, FeS2, menghasilkan sulfat. Air hujan diberbagai belahan dunia termasuk Indonesia mengandung sejumlah besar ion sulfat dikenal dengan hujan asam. Hujan asam ini yang akan masuk dalam air laut sehingga air laut mengandung ion-ion sulfat.

Dalam literatur oseanologi dikenal istilah salinitas atau konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat dalam air laut (seringkali disebut kadar garam). Salinitas sebenarnya jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu kilogram air laut, biasa dinyatakan dengan lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu.
Menurut Wikipedia, salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.
Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida—terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia. Pada 1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan.
Salinitas suatu laut dipengaruhi oleh faktor – faktor :
  1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.
  2. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.
  3. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.
”Model Salinitas” adalah suatu penggambaran atas kadar garam yang terdapat pada air, baik kandungan atau perbedaannya sehingga untuk tiap daerah dimungkinkan terdapat perbedaan ”model salinitas”nya.
Perubahan salinitas dipengaruhi oleh pasang surut dan musim. Ke arah darat, salinitas muara cenderung lebih rendah. Tetapi selama musim kemarau pada saat aliran air sungai berkurang, air laut dapat masuk lebih jauh ke arah darat sehingga salinitas muara meningkat. Sebaliknya pada musim hujan, air tawar mengalir dari sungai ke laut dalam jumlah yang lebih besar sehingga salinitas air di muara menurun.
Perbedaan salinitas dapat mengakibatkan terjadinya lidah air tawar dan pergerakan massa di muara. Perbedaan salinitas air laut dengan air sungai yang bertemu di muara menyebabkan keduanya bercampur membentuk air payau. Karena kadar garam air laut lebih besar, maka air laut cenderung bergerak di dasar perairan sedangkan air tawar di bagian permukaan. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya sirkulasi air di muara.
Aliran air tawar yang terjadi terus-menerus dari hulu sungai membawa mineral, bahan organik, dan sedimen ke perairan muara. Di samping itu, unsur hara terangkut dari laut ke daerah muara oleh adanya gerakan air akibat arus dan pasang surut. Unsur-unsur hara yang terbawa ke muara merupakan bahan dasar yang diperlukan untuk fotosintesis yang menunjang produktifitas perairan. Itulah sebabnya produktifitas muara melebihi produktifitas ekosistem laut lepas dan perairan tawar. Lingkungan muara yang paling produktif di jumpai di daerah yang ditumbuhi komunitas bakau.
Salinitas berubah-ubah akibat bertambah dan berkurangnya molekul-molekul air melalui proses penguapan dan hujan. Salinitas meningkat bila laju penguapan di satu daerah lebih besar daripada hujan. Sebaliknya, pada daerah dimana hujan lebih besar daripada penguapan salinitas berkurang. Kondisi ini tergantung pada garis lintang dan musim. Pola-pola tersebut dapat dilihat pada lintang antara 20° dan 30° di sebelah utara dan selatan garis khatulistiwa, dimana salinitas lebih tinggi dari perairan di sekitarnya, karena laju penguapan di wilayah ini jauh lebih besar dibandingkan jumlah air yang diterima dari hujan. Tempat-tempat ini memiliki garis lintang yang sama dengan gurun-gurun pasir. Di samping itu, salinitas dipengaruhi pula oleh kondisi setempat. Aliran keluar yang sangat besar dari sistem sungai yang besar seperti Amazon, dapat menurunkan salinitas air di laut sekitarnya. Salinitas sungai yang sedang mengalami banjir akan menurun secara sementara.
Meskipun pada skala global konsentrasi salinitas berbeda-beda, rasio antara ion-ion yang berbeda akan selalu sama. Kondisi ini dilaporkan oleh studi pelayaran H.M.S. Challenger yang melakukan penelitian ilmiah antara tahun 1872 dan 1876, dan kemudian dikenal sebagai hukum proporsi konstan.
Salinitas (laut) berada dalam keadaan stabil karena keseluruhan proses ini berada dalam suatu keseimbangan tunak (‘steady state equilibrium’). Jumlah garam yang ditambahkan ke laut kira-kira sama dengan jumlah yang dikeluarkan darinya. Mekanisme utama perpindahan garam terjadi pada zona subduksi/penunjaman lempeng-lempeng benua dimana air laut tertarik ke dalam mantel bumi dan akhirnya didaur ulang.
Peningkatan salinitas laut bersesuaian dengan garis lintang tengah. Daerah ini didominasi oleh sistem tekanan tinggi dimana udara hangat yang kering meningkatkan laju penguapan. Salinitas yang meningkat di daerah lepas pantai Antarktika dan Greenland merupakan titik awal dari Sabuk Termohalin Laut. Pembentukan es meningkatkan konsentrasi garam dan kerapatan air di sekitarnya sehingga menyebabkan garam-garam tersebut tenggelam ke kedalaman dalam suatu perjalanan yang dapat menempuh waktu 1000 tahun.

C. Pengaruh Konsentrasi Mineral terhadap Salinitas Air Laut

            Di dalam air laut terkandung mineral atau unsur-unsur utama yang dapat membentuk garam. Mineral atau unsur-unsur utama inilah yang memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap kadar garam di lautan. Salinitas air laut merupakan konsentrasi rata-rata seluruh garam dalam air laut sehingga perubahan konsentrasi daripada mineral dalam lautan akan berpengaruh terhadap kadar salinitas air laut. Laut merupakan larutan dari berbagai unsur termasuk berbagai macam garam mineral, misalnya: Calcium, Magnesium, Sodium, Potasium, Bikarbonat, Chlorida, Sulfat, dan Bromida. Secara rerata, air laut mengandung garam sebanyak 3,5%. Artinya, setiap 1000 kilogram air laut mengandung 35 kilogram garam. Kandungan garam yang tertinggi lautan ada di daerah 20 derajat Lintang Utara dan di daerah 20 derajat Lintang Selatan (3,6% permil). Kandungan garam terendah (3,1%) berada di daerah khatulistiwa.
Air sangat banyak menghasilkan magnesium, tetapi kandungannya berubah-ubah mengikut bekalan air. Air laut mengandungi lebih banyak magnesium berbanding dengan air biasa. Hal ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya kandungan mineral dalam air membuat kadar salinitas air bertambah dibuktikan melalui air laut yang mana memiliki lebih banyak magnesium dari pada air tawar juga memiliki rasa yang lebih asin daripada air tawar.
            Bukti nyata dari pengaruh konsentrasi mineral terhadap salinitas air laut dapat di lihat dari peristiwa ‘laut mati’. Laut Mati juga disebut Laut Asin, adalah sebuah danau garam yang berbatasan dengan Israel dan Tepi Barat di barat, dan Yordania di timur. Permukaannya dan pantai adalah 422 meter (1.385 kaki) di bawah permukaan laut, permukaan air terendah dari permukaan bumi di ukur dari tanah kering. Laut Mati adalah 378 m (1.240 kaki) dalamnya, danau yang terdalam di antara danau danau asin dunia. Juga merupakan air yang paling asin, dengan 33,7% salinitas. Hanya Danau Assal (Djibouti), Garabogazköl dan beberapa danau hypersaline dari Lembah Kering McMurdo di Antartika (seperti Don Juan Pond dan mungkin Danau Vanda) memiliki salinitas yang lebih tinggi. Danau ini adalah 8,6 kali lebih asin daripada laut. Dikarenakan salinitas yang keras, membuat suatu lingkungan di mana binatang tidak dapat berkembang, maka sesuai dengan namanya Laut Mati. Laut Mati adalah 67 kilometer (42 mil) panjangnya dan 18 kilometer (11 mil) lebarnya pada titik terlebar. Itu terletak di Yordania Rift Valley, dan anak sungai utamanya adalah Sungai Yordan. 
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%. Berikut salinitas pada persentase garam terlarut
Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut
Air tawar
Air payau
Air saline
Brine
< 0.05 %
0.05 – 3 %
3 – 5 %
> 5 %
Sehingga Salinitas permukaan laut yang paling tinggi terukur sekitar 40 PSU di Laut Merah. Meski begitu, Laut mati adalah laut paling asin di bumi. Tingkat penguapan yang tinggi dan fakta bahwa ia adalah sebuah laut yang tertutup telah membimbing kepada hasil pengukuran salinitas di permukaannya yang mencapai 300 PSU. Tingginya salinitas membuat airnya menjadi semakin rapat sehingga Anda bisa mengapung bahkan sambil membaca buku sekalipun.
Pada  Kandungan mineral dari Laut Mati sangat berbeda dari air laut. Komposisi yang tepat dari air Laut Mati bervariasi terutama dengan musim, kedalaman dan suhu. Pada awal 1980-an konsentrasi spesies ion (dalam g / kg) dari permukaan air Laut Mati adalah Cl-(181,4), Br-(4.2), SO42-(0,4), HCO3-(0,2), Ca2 + (14.1), Na + (32,5), K + (6.2) dan Mg2 + (35,2). Jadi total salinitas adalah 276 g / kg. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa w / w% komposisi garam, seperti klorida anhidrat, adalah kalsium klorida (CaCl2) 14,4%, kalium klorida (KCl) 4,4%, magnesium klorida (MgCl2 ) 50,8% dan natrium klorida (garam dapur, NaCl) 30,4%. Sebagai perbandingan, garam dalam air dari sebagian besar lautan dan laut adalah sekitar 97% natrium klorida. Konsentrasi ion sulfat (SO42-) sangat rendah, dan konsentrasi ion bromida (Br-) adalah yang tertinggi dari semua perairan di Bumi.
Konsentrasi garam Laut Mati berfluktuasi sekitar 31,5%. Ini adalah hasil yang luar biasa tinggi dan dalam nominal densitas 1,24 kg / L. Siapapun dapat dengan mudah mengapung di Laut Mati karena kemampuan mengapung alam.
Fitur yang tidak biasa dari Laut Mati adalah pelepasan aspal. Dari rembesan yang mendalam, Laut Mati terus-menerus memuntahkan kerikil kecil dan blok dari substansi hitam. Aspal-aspal ini lah yang melapisi patung-patung dan tengkorak Neolitikum dari situs arkeologi telah ditemukan. Juga pembuatan mumi Mesir memerlukan proses yang menggunakan aspal yang diimpor dari kawasan Laut Mati.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa kandungan mineral dari laut mati sangat tinggi sehingga kadar salinitas atau kadar garam pada laut ini sangat tinggi pula. Uraian di atas menunjukkan adanya signifikan kadar mineral dalam suatu perairan terhadap tingkat salinitasnya, dimana contohnya seperti laut biasa yang mempunyai kadar garam atau kandungan mineral sebesar 3,5% sedangkan air laut mati mempunyai kadar garam atau kandungan mineral sebesar 30%, jika konsentrasi mineral yang dikandung suatu perairan dalam hal ini laut berpengaruh terhadap kadar salinitas dari laut tersebut maka kadar salinitas pada laut mati lebih tinggi dari salinitas air laut biasa. Dalam kehidupan nyata memang terjadi seperti demikian sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa konsentrasi mineral yang dikandung suatu perairan akan mempengaruhi kadar salinitas air tersebut, selain itu konsentrasi mineral dari perairan ini sangat dipengaruhi oleh jenis batuan dimana air tersebut berada dan ada tidaknya pengendarapan yang terjadi ditempat tersebut. 
Selain faktor pengaruh konsentrasi mineral terhadap salinitas suatu perairan, terdapat pulan faktor faktor lain yang mempengaruhi salinitas atau kadar garam adalah antara lain:
A.   Penguapan, teorinya adalah semakin besar penguapan air laut maka akan semakin tinggi pula tingkat kadar garam di wilayah laut tersebut begitu pun sebaliknya.
B.   Curah hujan setempat. semakin banyak curah hujan di wilayah perairan tersebut maka tingkat kadar garam atau salintasnya pun akan rendah, begitupun sebaliknya bila curah hujan rendah maka jelas kadar garam akan tinggi. dalam kasus laut mati ini terdapat hanya satu sumber aliran utama yaitu dari Sungai Jordan, jelas saja dengan begitu salinitas menjadi tinggi, karena teorinya semakin banyak aliran sungai yang bermuara ke sebuah laut, hal tersebut akan mempengaruhi tingkat kadar garam nya pula.
Namun demikian perbandingan konsentrasi air laut dan minerallah yang menjadi faktor utama yang mempengaruhi kadar salinitas air laut, karena kedua faktor diatas menyebabkan jumlah air berkurang sehingga konsentrasi mineral dalam air  laut secara tidak langsung membesar sehingga kadar salinitasnya meningkat.


BAB III

PENUTUP


A. Kesimpulan

            Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya maka disimpulkan sebagai berikut :
1.    Mineral yang utama yang terkandung dalam air laut adalah Klorida (55%), Natrium (31%), Sulfat (8%), Magnesium (4%), Kalsium (1%), Potasium (1%) dan sisanya kurang dari 1% terdiri dari Brom, Stronsium, Flour, dan Boron.
2.    Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.
3.    Kadar salinitas dari suatu laut dipengaruhi oleh kadar konsentrasi mineral yang dikandungnya, bila konsentrasi mineralnya tinggi maka kadar salinitasnya juga semakin tinggi.

B. Saran

            Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh maka penulis menyarankan kepada mahaiswa agar menghayati dan memahami materi ini karena kandungan mineral dalam air laut bukan saja mempengaruhi kadar salinitas tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Mengenal Lingkungan Laut : Salinitas. http://mdc. undip.ac.id. Diakses pada 17 April 2012 pukul 21.53 WITA.

Kasijian Romimohtarto dan Sri Juwana. 2007. BIOLOGI LAUT : Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta : Djambatan.

Litaay, Magdalena dkk., 2013. Bahan Ajar Oseanologi Pendahuluan. Makassar : Universitas Hasanuddin.

Reandragraha, Dimas. 2011. Salinitas pada Laut Mati. http:// dimasrendragraha.wordpress.com. Diakses pada 17 April 2012 pukul 21.17 WITA.

Rifni, Darmadi. 2010. Salinitas Laut. http://dhamadharma.wordpress.com. Diakses pada 17 April 2012 pukul 22.07 WITA.

Wikipedia. 2012. Air Laut. http://id.wikipedia.org. Diakses pada 17 April 2012 pukul 21.14 WITA.

Wikipedia. 2012. Salinitas. http://id.wikipedia.org. Diakses pada 17 April 2012 pukul 21.35 WITA.

Yunus, Zabar. 2012. Macam-macam Senyawa Kimia dalam Laut. http:// perikanan-tangkap.blogspot.com. Diakses pada 17 April 2012 pukul 21.30 WITA.





Take Home 1 WSBM (PIP Kelautab, Visi Unhas, dan Tujuan Pembelajaran WSBM)

1. Jelaskan dengan singkat yang dimaksudkan bahwa Mk. WSBM sebagai ciri/identitas ke-Unhas-an! Jawaban : Mk. WSBM digunakan sebagai ciri i...