Saturday, May 18, 2013

MITOS SUMPAH 7 TURUNAN HUBUNGANNYA DENGAN GENTIKA

        Akhir-akhir ini baik di media cetak maupun media elektronik, ramai dikabarkan tentang sumpah 'DEMI TUHAN' yang dilakukan oleh Arya Wiguna, dalam tulisan saya kali ini saya tidak akan membahas tentang sumpah demi tuhan Arya Wiguna, namun saya lebih tertarik kepada sumpah 7 turunan. Setiap kita melihat atau mendengar ada sesuatu baik itu sumpah maupun bukan, selalu saja 7 turunan yang menjadi korbannya. Mengapa selalu 7 turunan? Contohnya saja yang paling sering kita dengar sehari-hari, "Hartanya tidak akan habis sampai 7 turunan". Sepertinya ada hal yang sangat menarik dari kata-kata 7 turunan ini.
        Kata-kata 7 turunan ini sepertinya telah melekat erat dalam kehidupan masyarakat, kita tidak pernah mendengar ada kata-kata sumpah 8 turunan atau yang lainnya. Dalam masyarakat kabupaten Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan) terutama dalam kalangan keluarga Ince (Salah satu gelar yang biasa digunakan dalam masyarakat untuk menunjukkan status sosialnya, seperti gelar "Andi"), terdapat mitos mengenai tujuh turunan ini. Mitos yang ada dimana keluarga keturunan Ince ini dilarang untuk mengonsumsi makanan tertentu seperti 'balacang' (udang rebon), 'lamburu batti' (pari bertotol), dan 'panggalasang' (ikan barakuda) sampai pada keturunan ketujuh. Hal ini disebabkan karena tetua dari keluarga Ince dalam hal ini menurut mereka yaitu Syekh Nurdin, melakukan sumpah bahwa sampai pada keturunannya yang ketujuh tidak akan pernah mengonsumsi ketiga hewan ini, apabila ia melanggar maka akan mendapatkan sanksi. Sebelum membahas lebih jauh mengapa dalam sumpah ini, kata-kata yang diucapkan adalah 7 turunan lagi. Kita terlebih dahulu harus mengetahui mengapa Syekh Nurdin melakukan sumpah ini?

        Menurut dari cerita yang beredar di masyarakat, Syekh Nurdin sedang berlayar dalam rangka untuk menyebarkan agama islam ke tempat lain, dalam perjalanannya kapal yang ditumpanginya rusak akibat terpaan gelombang besar yang membahayakan hidupnya dan menyebabkan kapalnya rusak. Dalam kondisi tersebut, datanglah bantuan dari ketiga  binatang ini, dimana kumpulan udang rebon membantu menutup lubang pada kapal dengan menempelkan tubuhnya pada kapal tersebut, ikan barakuda berubah menjadi cadik perahu, dan pari bertotol berubah menjadi layar, karena bantuan dari ketiga binatang ini, maka Syekh Nurdin bisa selamat dan melanjutkan perjalanannya. Karena telah diselamatkan maka Syekh Nurdin-pun bersumpah bahwa anak cucunya sampai 7 turunan, tidak akan pernah mengonsumsi ketiga binatang ini. Mitos ini semakin kuat dikalangan masyarakat diakibatkan oleh orang-orang yang menyandang gelar Ince, murni keturunan Ince ataupun masih termasuk ke dalam 7 turunan dari Syekh Nurdin, apabila mengonsumsi salah satu dari ketiga binatang ini, maka secara otomatis tubuhnya akan mengalami reaksi alergi berupa gatal-gatal sampai timbulnya borok dan luka pada kulit kepala. Anehnya semakin dekat silsilah dengan Syekh Nurdin ataupun merupakan golongan Ince yang masih murni, maka semakin hebat reaksi alergi yang ditimbulkan.
        Hal ini sangat menarik untuk dikaji secara ilmiah, mengapa dalam bersumpah selalu saja sampai 7 turunan? Hal ini tentu mempunyai alasan tersendiri yang sangat bagus untuk kita kaji lebih lanjut. Ternyata kasus seperti ini dapat kita analisis dengan menggunakan pola pewarisan sifat dalam genetika. Yang partama kita meninjau dulu apakah alergi dapat diturunkan atau tidak? Jawabannya alergi termasuk salah satu penyakit keturunan yang dapat dirunankan dari kakek ke anak bahkan ke cucunya. Seperti yang kita ketahui bahwa antara parental dan keturunannya terjadi peristiwa pewarisan sifat dimana keturunan pertama akan mewarisi separuh dari gen induknya atau parentalnya. Gen yang diperoleh ini selanjutnya dapat lagi diturunkan kepada turunannya lagi dalam jumlah yang lebih sedikit. Dalam kasus ini misalkan saja di asumsikan bahwa gen yang membawa sifat alergi ini diturunkan kepada keturunannya maka persentasi gen yang diperoleh generasi berikutnya sebagai berikut :
  • Parental = 1
  • Ketrunan pertama (F1) = 0,5
  • Keturunan kedua (F2) = 0,25
  • Keturunan ketiga (F3) = 0,125
  • Keturunan keempat (F4) = 0,0625
  • Keturunan kelima (F5) = 0,03125
  • Keturunan keenam (F6) = 0,0156
  • Keturunan ketujuh (F7) = 0,0078
         Dapat dilihat bahwa sifat yang diturunkan dari parental pada setiap keturunannya akan mengurang jumlah frekuensi kemungkinan gen yang diperoleh bahkan hampir mendekati nol pada keturunan ketujuh sehingga sifat gen tersebut akan dapat dianggap hilang. Hal inilah yang dapat menjelaskan fenomena sumpah 7 turunan dalam masyarakat.  Jadi secara umum, masyarakat sudah mengetahui akan hal tesebut baik itu disengaja maupun tidak tentang sumpah 7 turunan ini. Yang pastinya hal ini secara ilmiah dijelaskan dalam konsep pola pewarisan sifat dimana setiap keturunan hanya memperoleh sebagian dari jumlah gen total induknya sehingga apabila gen ini terus menerus diwariskan sampai ke keturunan ketujuh, maka kemungkinan munculnya sifat dari gen ini sangatlah kecil, bahkan mendekati angka nol.

RISKY NURHIKMAYANI

KULINER PANGKEP PART 2 [CREPE JAPPA-JAPPA]

Untuk part 2 mimin mau review salah satu cemilan kekinian yang ada di Pangkep yaitu 'Crepe'. Crepe merupakan panekuk tipis yang te...