Pages

Friday, May 18, 2012

TERUMBU KARANG & PULAU SAUGI


Indonesia Memiliki areal Terumbu Karang yang luas, diperkirakan sekitar 14% dari luasan terumbu karang di dunia atau diperkirakan seluas 51% dari terumbu karang yang ada di Asia Tenggara. Kondisi tersebut mengakibatkan penduduk Indonesia bergantung sepenuhnya pada ekosistem terumbu karang sebagai sumber pencaharian.
Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem yang mengandung sumber daya alam yang dapat memberi manfaat besar bagi manusia. Untuk itu diperlukan kearifan manusia untuk mengelolanya, yang bisa menjadikan sumber daya alam ini menjamin kesejahteraan manusia sepanjang zaman. Pengelolaan terumbu karang harus berbasis pada keterlibatan masyarakat, sebagai pengguna langsung sumber daya laut ini. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya terumbu karang sangat penting mulai dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan sampai pada tahap evaluasi dari suatu cara pengeloaan.
Gambaran umum tentang keadaan negara Indonesia memiliki kesamaan dengan salah satu provinsi di Sulawesi Selatan yakni Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) adalah salah satu kabupaten yang terletak di utara kota Makassar, dicirikan dengan wilayah perairannya lebih luas dibandingkan daratannya dengan perbandingan 1 berbanding 17. Kabupaten Pangkep memiliki 117 pulau dan hanya kurang lebih 90 diantara yang berpenghuni dengan jumlah penduduk 51.496 jiwa, terbagi dalam 3 kecamatan yaitu Kecamatan Tuppabiring, Kecamatan Liukang Kalmas dan Liukang Tangayya dan 7 kecamatan wilayah pesisir. Luas laut Kabupaten Pangkep 71.100 km2  dengan luas terumbu karang 36.000 km2 dengan mayoritas pekerjaan masyarakat adalah sebagai nelayan.
Salah satu pulau di Kabupaten Pangkep adalah Pulau Saugi yang termasuk dalam wilayah administrasi Desa Mattiro Baji Kecamatan Liukang Tupabbiring. Penduduk di Pulau ini sepenuhnya menggantungkan hidup pada sumber daya yang ada di laut. Kondisi perairannya termasuk dalam zona pinggir sehingga massa air lebih banyak dipengaruhi oleh daratan utama, terutama sedimentasi dan salinitas. Pada musim penghujan, peristiwa sedimentasi dan kekeruhan yang tinggi terjadi sehingga mempengaruhi kehidupan terumbu karang. Terumbu karang sangat mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya baik secara fisik juga biologis. Akan tetapi, tekanan terhadap keberadaan terumbu karang paling banyak diakibatkan oleh kegiatan manusia. Dengan demikian diperlukan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberadaan terumbu karang yang ada di pulau tersebut.