Pages

Friday, March 15, 2013

LAPORAN POPULASI, KOMUNITAS DAN EKOSISTEM


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Di dalam lingkungan terjadi interaksi kisaran yang luas dan kompleks. Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang menggabungkan pendekatan hipotesis deduktif, yang menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menguji penjelasan hipotesis dari fenomena-fenomena ekologis (Campbell,2000).
Ekologi mempunyai tingkatan pengkajian yaitu unsure biotik dan abiotik. Lingkungan meliputi komponen abiotik seperti suhu, udara, cahaya, dan nutrient. Yang juga penting pengaruhnya kepada organisme adalah komponen biotik yakni semua organisme lain yang merupakan bagian dari lingkungan suatu individu (Campbell, 2000).
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan antara komponen komponen tersebut terjadi pengambilan dan perpindahan energi, daur materi, dan produktivitas (Sativani, 2010).
Satuan makhluk hidup dalam ekosistem dapat berupa individu, populasi, atau komunitas. Individu adalah makhluk tunggal. Contohnya: seekor kelinci,seekor serigala, atau individu yang lainnya. Sejumlah individu sejenis (satu species) pada tempat tertentu akan membentuk Populasi. Contoh : dipadang rumput hidup sekelompok kelinci dan sekelompok srigala. Jumlah anggota populasi dapat mengalami perubahan karena kelahiran, kematian, dan migrasi ( emigrasi dan imigrasi).  Sedangkan komunitas yaitu seluruh populasi makhluk hidup yang hidup di suatu daerah tertentu dan diantara satu sama lain saling berinteraksi. Contoh: di suatu padang rumput terjadi saling interaksi antar populasi rumput, populasi kelinci dan populasi serigala. Setiap individu, populasi dan komunitas menempati tempat hidup tertentu yang disebut habitat (Andri, 2011).
Ekosistem tidak akan tetap selamanya, tetapi selalu mengalami perubahan. Antara faktor biotik dan abiotik selalu mengadakan interaksi, hal inilah yang merupakan salah satu penyebab perubahan. Perubahan suatu ekosistem dapat disebabkan oleh proses alamiah atau karena campur tangan manusia (Andri, 2011).
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukanlah percobaan populasi, komunitas dan ekosistem.
1.2  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan suatu populasi, mengetahui komponen biotic dan abiotik di Canopy serta hubungan antar sesama komponen biotic dan menentukan komponen biotic yang berperan penting dalam ekosistem di Canopy.
1.3  Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Senin, 15 Oktober 2012 pukul 14.00-17.30 WITA. Percobaan ini bertempat di Laboratorium Biologi Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem (Bohari,2011).
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu. Contoh populasi dari komunitas sungai dapat berupa populasi rumput, populasi ikan, populasi kepiting, popuasi kerang, populasi sumpil, dan lain-lain. Contoh populasi dari komunitas sawah dapat berupa populasi padi, populasi tikus, populasi ular, dan lain-lain. Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut (Sativani, 2010):
1.    Alelopati
Merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
2.    Kompetisi
Merupakan interaksi antarpopulasi, bila antar populasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut (Sativan,2010):
a.     Netral
Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
b.    Predasi
Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
c.     Parasitisme
Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.
d.    Komensalisme
Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
e.     Mutualisme
Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru. Adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dari luar, kesimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru (Sativani,2010).
Suatu komunitas terdiri dari semua organisme yang menempati suatu daerah tertentu; komunitas adalah kumpulan populasi dari spesies yang berlainan. Pertanyaan pada tingkat analisis ini meliputi cara berinteraksi di antara organism seperti predasi, kompetisi dan penyakit, yang mempengaruhi struktur dan organisasi komunitas (Campbell, 2000).
Ekosistem adalah suatu komunitas tumbuhan, hewan dan mikroorganisme beserta lingkungan non-hayati yang dinamis dan kompleks, serta saling berinteraksi sebagai suatu unit yang fungsional. Manusia merupakan bagian yang terintegrasi dalam ekosistem. Ekosistem sangat bervariasi dalam hal ukuran, dapat berupa genangan air pada suatu lubang pohon hingga ke samudera luas (Caudill,2005).
Berdasarkan proses terjadinya, ekosistem dibedakan atas dua macam (Anonim,2012):
·         Ekosistem Alami, yaitu ekosistem yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Contoh : padang rumput, gurun,laut.
·         Ekosistem Buatan, yaitu ekosistem yang terjadi karena buatan manusia.
Contoh : kolam, sawah, waduk, kebun.
Ekosistem tidak akan tetap selamanya, tetapi selalu mengalami perubahan. Antara faktor biotik dan abiotik selalu mengadakan interaksi, hal inilah yang merupakan salah satu penyebab perubahan. Perubahan suatu ekosistem dapat disebabkan oleh proses alamiah atau karena campur tangan manusia (Anonim, 2012).
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut (Anonim,2012).
1.             Ekosistem Darat : Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
2.             Bioma gurun :Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.
3.             Bioma padang rumput : Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan.
4.             Bioma Hutan Basah : Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik. Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.  
5.             Bioma hutan gugur : Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang, Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).
6.             Bioma taiga : Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
7.             Bioma tundra : Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin. Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
8.             Ekosistem Air Tawar : Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Pertumbuhan populasi dibatasi oleh faktor-faktor yang bergantung dan tidak bergantung pada kepadatan yang keutamaan relatifnya bervariasi sesuai dengan spesies dan keadaan. Faktor bergantung pada kepadatan akan semakin intensif ketika kepadatan populasi meningkat dan akhirnya dapat menstabilkan populasi didekat daya tampungnya. Beberapa factor yang bergantung kepadatan adalah kompetisi intraspesies untuk sumber daya yang terbatas, peningkatan pemangsaan, cekaman akibat kepadatan, atau penumpukan toksin dapat menyebabkan laju pertumbuhan populasi menurun pada kepadatan populasi yang tinggi (Campbell,2000).
Faktor yang tidak bergantung pada kepadatan, seperti kejadian-kejadian karena iklim dan kebakaran, menuurunkan ukuran populasi pada fraksi tertentu. Populasi yang secara umum bersifat stabil kemungkinan mendekati suatu daya tampung yang ditentukan oleh batas-batas yang bergantung pada kepadatan, akan tetapi fluktuasi jangka pendeknya tidak bergantung kepadatan (Campbell,2000).
Kedua kekuatan utama yang mempengaruhi pertumbuhan populasi, yaitu angka kelahiran dan angka kematian, dapat diukur dan digunakan untuk memprediksi bagaimana ukuran populasi akan berubah menurut waktu. Terdapat dua model pertumbuhan yaitu model eksponensial dan model logistic (Campbell,2000).
Model eksponensial pertumbuhan populasi menjelaskan suatu populasi ideal dalam lingkungan yang tidak terbatas. Model ini memprediksi bahwa semakin besar suatu populasi akan semakin cepat populasi itu akan tumbuh (Campbell,2000).
Model logistic pertumbuhan populasi menyertakan konsep daya tampung. Pertumbuhan eksponensial tidak dapat dipertahankan tanpa batas dalam populasi apapun. Suatu model yang lebih nyata (realistis) membatasi pertumbuhan dengan menyertakan daya tampung (Campbell,2000).



BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kalkulator, penggaris, pensil, dan penghapus.
III.2 Bahan
Bahan-bahan  yang diperlukan untuk percobaan ini adalah kertas grafik A3 serta komponen biotic yang ada di Canopy diantaranya Pandan Pandanus rectanus, Nangka Arthocarpus integra, Alamanda Alamanda katacita, Bunga kertas Bougainvillea sp, Sirsak  Annora muricata, Belimbing wuluh Averrhoea bilimbi, Mangga Mangifera indica, Lalat buah Drosophila melanogaster, Semut Monomorium sp, Belalang Valanga sp, Capung Diplacodes trivialis, Siput Lymnaea sp.
III.3 Cara Kerja
III.3.1 Mengamati Ekosistem di Canopy
            Adapun langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini sebagai berikut:
1.      Memilih daerah penelitian dalam hal ini daerah yang dipilih adalah Canopy yang terletak di samping Laboratorium Biologi Dasar Universitas Hasanuddin, Makassar.
2.      Menentukan data yang akan dikumpulkan atau diteliti. Dalam hal ini data yang dikumpulkan adalah komponen biotic dan abiotik.
3.      Melakukan survey tempat.
4.      Memeberikan batasan daerah penelitian.
5.      Mengumpulkan data. Menyiapkan sebuah buku lapangan atau lebih praktis bila kertas untuk mencatat, dapat dijepit pada suatu alat tulis.
6.      Mengidentifikasi organism yang akan diteliti dan menentukan namanya.
III.3.2 Menghitung Populasi Burung Hantu Beluk Ketupa Ketupa ketupu.
Adapun langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini sebagai berikut:
1.      Mempersiapkan model.
2.      Model I : Kita umpamakan disuatu pulau pada tahun 2010 dihuni oleh 10 burung hantu beluk ketupa Ketupa ketupu ( 5 pasang jantan dan betina).
Asumsi I: Setiap Musim bertelur, setiap pasang burung gereja menghasilkan 10 keturunan (5 pasang jantan dan betina).
Asumsi II: Setiap tahun semua tetua (induk jantan dan betina) mati sebelum musim bertelur berikutnya.
Asumsi III: Setiap tahun semua keturunan hidup sampai pada musim bertelur berikutnya. Dalam keadaan sebenarnyabeberapa tetua akan hidup dan beberapa keturunannya akan mati. Asumsi I dan III akan saling memberikan suatu keadaan yang seimbang, sehingga akan mengurangi perbedaan antara model yang dibuat dengan keadaan yang sebenarnya.
Asumsi IV: Selama pengamatan tidak ada burung yang meninggalkan atau yang datang ke pulau tersebut.
3.      Berdasarkan cara diatas, hitunglah populasi burung hantu beluk ketupa Ketupa ketupu pada tahun 2010 sampai tahun 2014.
4.      Model II: Mengubah asumsi II sebagai berikut, setiap tahun 2/5 dari tetua jantan dan betina yang sama jumlahnya masih dapat mempunyai keturunan untuk ke-2 kalinya. Baru kemudian mati. Asumsi lain tidak mengalami perubahan.
5.      Model III: Mengubah Asumsi III sebagai berikut, setiap tahun 2/5 dari keturunan (jantan dan betina) sama jumlahnya, mati sebelum musim bertelur. Asumsi lain tidak berubah.
6.      Model IV: Mengubah asumsi IV sebagai berikut, Setiap tahun 50 burung jantan dan betina sama jumlahnya dating ke pulau tersebut dari pulau lain dan tidak seekorpun yang pergi. Asumsi lain tidak berubah.
7.      Membuat grafik berdasarkan tiap model yang telah dibuat.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
IV.1.1 Mengamati Ekosistem di Canopy
Biotik (Hewan dan Tumbuhan).
Tumbuhan :
1.      Pandan Pandanus rectanus
2.      Nangka Arthocarpus integra
3.      Alamanda Alamanda katacita
4.      Bunga kertas Bougainvillea sp
5.      Sirsak  Annora muricata
6.      Belimbing wuluh Averrhoea bilimbi
7.      Mangga Mangifera indica
Hewan :
1.      Lalat buah Drosophila melanogaster
2.      Semut Monomorium sp
3.      Belalang Valanga sp
4.      Capung Diplacodes trivialis
5.      Siput Lymnaea sp
Abiotik :
1.      Tanah
2.      Air
3.      Udara
4.      Cahaya
5.      Nutrient
Gambar Jaring-jaring Makanan



















IV.1.2 Menghitung Populasi Burung Hantu Beluk Ketupa Ketupa ketupu.
Grafik Pertumbuhan Populasi Burung Hantu Beluk Ketupa Ketupa Ketupu
Model I

Model II
Model III
Model IV
IV.2 Pembahasan
Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang lingkungan beserta komponen biotiknya temasuk didalamnya populasi, komunitas, dan ekosistem. Berbicara tentang ekologi tidak pernah lepas dari komponen biotic dan abiotik yang menjadi objek kajiannya. Antara komponen biotic dan abiotik ini terjadi hubungan timbal balik yang disebut ekosistem.
IV.2.1 Mengamati Ekosistem di Canopy
            Adapun hasil yang diperoleh setelah melakukan pengamatan di Canopy, diperoleh data komponen biotic serta abiotik di Canopy. Adanya komponen biotic dan abiotik ini menunjukkan ekosistem di Canopy yang terdiri dari beberapa tumbuhan, hewan berupa serangga dan gastropoda serta komponen abiotik.
            Terlebih dahulu yang akan dibahas adalah komponen biotic hal ini menyangkut komunitas yang ada di Canopy. Tumbuhan dalam hal ini berperan sebagai produsen di dalam komunitas, sebagai sumber makanan bagi tingkat trofik diatasnya. Semua tumbuhan yang ditemukan hampir memiliki konstribusi jumlah yang sama dalam ekosistem sehingga semua produsen mempunyai konstribusi yang sama dalam menyediakan makanan bagi konsumen.
Adapun konsumen yang terdapat pada komunitas ini berupa serangga dan gastropoda. Serangga terdiri dari Lalat buah Drosophila melanogaster, Semut Monomorium sp, Belalang Valanga sp dan Capung Diplacodes trivialis serta gastropoda Siput Lymnaea sp. Konsumen yang terdapat pada Canopy ini sebagian besar merupakan konsumen tingkat pertama atau herbivore diantaranya Lalat buah Drosophila melanogaster, Semut Monomorium sp, Belalang Valanga sp dan Capung Diplacodes trivialis serta gastropoda Siput Lymnaea sp. Walaupun semut menempati kedudukan sebagai konsumen tingkat pertama namun tingkat trofik semut bisa meningkat menjadi konsumen tingkat ke-2. Karena apabila salah saru dari keempat hewan lainnya mati, maka semut akan memakannya. Hal ini bisa kita buktikan melalui pengamatan sehari-hari dimana ketika ada bangkai hewan maka dalam sekejap bangkai itu akan di kerumuni oleh semut. Hubungan ini menggambarkan jaring-jaring makanan.
      Setelah membahas komponen biotic, lebih luas lagi akan dibahas komponen abiotik yang terdapat di Canopy. Komponen abiotik yang terdapat secara umum di golongkan dalam udara, air, tanah, cahaya dan nutrient. Jika komponen biotic dan abiotik ini di gabungkan maka akan membentuk komunitas di Canopy.
IV.2.2 Menghitung Populasi Burung Hantu Beluk Ketupa Ketupa ketupu.
Adapun hasil yang diperoleh setelah menghitung populasi burung hantu beluk ketupa Ketupa ketupu melalui model yang telah dibuat, diperoleh grafik yang menunjukkan model pertumbuhan eksponensial pada tiap model walaupun jumlah keturunan yang dihasilkan tiap tahunnya pada tiap model berbeda namun grafik tersebut sama-sama menunjukkan model pertumbuhan eksponensial.
Melalui model yang dibuat ini menunjukkan kondisi dimana tidak ada batasan kemampuan individu untuk mengambil energy, tumbuh dan bereproduksi. Populasi tersebut meningkat ukurannya dengan terjadinya setiap kelahiran dan imigrasi individu atau populasi lain, sedangkan populasi menurun ukurannya dengan terjadinya setiap kematian dan emigrasi individu dari populasi itu.
Ukuran suatu populasi yang tumbuh secara eksponensial meningkat secara cepat, seperti yang dapat dilihat pada gambar grafik pertumbuhan populasi burung hantu beluk ketupa pada tiap modenya menghasilkan kurva berbentuk J ketika ukuran populasi di plot terhadap waktu.
Meskipun laju pertumbuhan intrinsic bersifat konstan ketika populasi tumbuh, namun sesungguhnya populasi tersebut mengakumulasikan lebih banyakindividu baru persatuan waktu jika ukuran populasinya besar dibandingkan dengan jika ukuran populasi sedikit. Bandingkan antara grafik model IV dan lainnya dimana grafik model IV menunjukkan pertumbuhan populasi yang sangat tinggi dibandingkan dengan grafik model lainnya.
Selain itu, untuk suatu populasi juga dipengaruhi umur pada permulaan reproduksi, jumlah anak yang dihasilkan dan seberapa baik anak tersebut dapat bertahan hidup. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara tiap model yang mana model 2 dipengaruhi oleh kemampuan bertahan hidup tetua serta bereproduksi sehingga populasi yang dihasilkan lebih banyak daripada model yang pertama, sedangkan model yang ketiga memunjukkan kurangnya ketahanan hidup anakan sehingga populasi yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan model-model yang lainnya.
Kurva pertumbuhan eksponensial ini bisa terjadi karena populasi ini berada di lingkungan baru, namun bila populasi ini berada di lingkungan yang memiliki banyak populasi dari spesies lain ataupun spesies yang sama maka secara realistis akan berlaku factor pembatas yang menyebabkan model pertumbuhan berubah menjadi model pertumbuhan logistic.


BAB V
PENUTUP
IV. 1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil praktikum maka disimpulkan bahwa populasi dapat tumbuh berdasarkan dua model pertumbuhan yaitu eksponensial dan logisistik. Dari model pertumbuhan populasi yang dibuat menggambarkan model pertumbuhan eksponensial dimana ukuran populasi meningkat dengan cepat mengikuti kuva berbentuk J.
            Dari pengamatan yang dilakukan di Canopy diperoleh data hubungan interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya serta hubungan antar sesame komponen biotic yang saling makan memakan dimana komponen biotic yang terpenting ada dalam ekosistem di Canopy adalah tumbuhan karena sebagai sumber makanan bagi makhluk lainnya.
IV. 2 Saran
            Adapun saran dalam praktikum ini, untuk memperoleh data yang lebih lengkap seputar komunitas dan ekosistem dibutuhkan waktu yang lama agar data yang diperoleh akurat.
           





DAFTAR PUSTAKA
Andri.2011.Laporan Tetap Ekologi Pertanian. http://andriecaale.blogspot.com/ 2011/06/laporan-tetap-ekologi-pertanian.html 28 Oktober 2012 pukul 06.20 WITA.

Anonim.2012.Pengaruh Faktor Biotik Ekosistem. http://novyjuli.blogspot.com / 2012/02/laporan-praktikum-ekologi.html. 28 Oktober 2012 pukul 05.30 WITA

Bonari,Mega.2011.Keragaman Komunitas. http://megabohari.blogspot.com/ 2011/ 12/laporan-ekwan-keragaman-komunitas.html 28 Oktober 2012 pukul 05.44 WITA.

Campbell, Neil A. dkk. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta.Penerbit Erlangga.

Caudill, Herb.2005.Ekosistem dan Kesejahteraan Manusia:Suatu Kerangka Pikir untuk Penilaian.Jakarta. Millennium Ecosystem Assessment.

Sativani, Risa.2010.Ekologi Populasi. http://oryza-sativa135rsh. blogspot.com/ 2010/01 /ekologi-populasi.html 28 Oktober 2012 pukul 06.37 WITA.



LAMPIRAN
Model I
Tahun 2010
Asumsi I : Tetua = 10 ekor (5 pasang), Anakan = 5 x 10 = 50 ekor (25 pasang). Total= 50+10= 60 ekor (30 pasang).
Asumsi II : Tetua mati = 60 – 10 = 50 ekor (25 pasang).
Asumsi III : 50 ekor (25 pasang).
Asumsi IV: 50 ekor (25 pasang).
Tahun 2011
Asumsi I : Tetua = 50 ekor (25 pasang), Anakan = 25 x 10 = 250 ekor (125 pasang). Total= 250+50= 300 ekor (150 pasang).
Asumsi II : Tetua mati = 300 – 50 = 250 ekor (125 pasang).
Asumsi III : 250 ekor (125 pasang).
Asumsi IV: 250 ekor (125 pasang).
Tahun 2012
Asumsi I : Tetua = 250 ekor (125 pasang), Anakan = 125 x 10 = 1250 ekor (625 pasang). Total= 1250+250= 1500 ekor (750 pasang).
Asumsi II : Tetua mati = 1500 – 250 = 1250 ekor (625 pasang).
Asumsi III : 1250 ekor (625 pasang).
Asumsi IV: 1250 ekor (625 pasang).
Tahun 2013
Asumsi I : Tetua = 1250 ekor (625 pasang), Anakan = 625 x 10 = 6250 ekor (3125 pasang). Total= 6250+1250= 7500 ekor (3750 pasang).
Asumsi II : Tetua mati = 7500 – 1250 = 6250 ekor (3125 pasang).
Asumsi III : 6250 ekor (3125 pasang).
Asumsi IV: 6250 ekor (3125 pasang).
Tahun 2014
Asumsi I : Tetua = 6250 ekor (3125 pasang), Anakan = 3125 x 10 = 31250 ekor (15625 pasang). Total= 31250+6250= 37500 ekor (18750 pasang).
Asumsi II : Tetua mati = 37500 – 6250 = 31250 ekor (15625 pasang).
Asumsi III : 31250 ekor (15625 pasang).
Asumsi IV: 31250 ekor (15625 pasang).

Model II
Tahun 2010
Asumsi I : Tetua = 10 ekor (5 pasang), Anakan = 5 x 10 = 50 ekor (25 pasang). Total= 50+10= 60 ekor (30 pasang).
Asumsi II : 54 ekor (27 pasang)
Asumsi III : 54 ekor (27 pasang)
Asumsi IV: 54 ekor (27 pasang)
Tahun 2011
Asumsi I : 320 ekor (160 pasang).
Asumsi II : 290 ekor (145 pasang).
Asumsi III : 290 ekor (145 pasang).
Asumsi IV: 290 ekor (145 pasang).
Tahun 2012
Asumsi I : 1720 ekor (860 pasang).
Asumsi II : 1558 ekor (779 pasang).
Asumsi III : 1558 ekor (779 pasang).
Asumsi IV: 1558 ekor (779 pasang).
Tahun 2013
Asumsi I : 9240 ekor (4620 pasang).
Asumsi II : 8370 ekor (4185 pasang).
Asumsi III : 8370 ekor (4185 pasang).
Asumsi IV: 8370 ekor (4185 pasang).
Tahun 2014
Asumsi I : 49640 ekor (24820 pasang).
Asumsi II : 44966 ekor (22483 pasang).
Asumsi III : 44966 ekor (22483 pasang).
Asumsi IV: 44966 ekor (22483 pasang).

Model III
Tahun 2010
Asumsi I : Tetua = 10 ekor (5 pasang), Anakan = 5 x 10 = 50 ekor (25 pasang). Total= 50+10= 60 ekor (30 pasang).
Asumsi II : 50 ekor (25 pasang)
Asumsi III : 30 ekor (15 pasang)
Asumsi IV: 30 ekor (15 pasang)
Tahun 2011
Asumsi I : 180 ekor (90 pasang).
Asumsi II : 150 ekor (75 pasang).
Asumsi III : 90 ekor (45 pasang).
Asumsi IV: 90 ekor (45 pasang).
Tahun 2012
Asumsi I : 540 ekor (270 pasang).
Asumsi II : 450 ekor (225 pasang).
Asumsi III : 270 ekor (135 pasang).
Asumsi IV: 270 ekor (135 pasang).
Tahun 2013
Asumsi I : 1620 ekor (810 pasang).
Asumsi II : 1350 ekor (675 pasang).
Asumsi III : 810 ekor (405 pasang).
Asumsi IV: 810 ekor (405 pasang).
Tahun 2014
Asumsi I : 4860 ekor (2430 pasang).
Asumsi II : 4050 ekor (2025 pasang).
Asumsi III : 2430 ekor (1215 pasang).
Asumsi IV: 2430 ekor (1215 pasang).

Model IV
Tahun 2010
Asumsi I : Tetua = 10 ekor (5 pasang), Anakan = 5 x 10 = 50 ekor (25 pasang). Total= 50+10= 60 ekor (30 pasang).
Asumsi II : 50 ekor (25 pasang)
Asumsi III : 50 ekor (25 pasang)
Asumsi IV: 100 ekor (50 pasang)
Tahun 2011
Asumsi I : 600 ekor (300 pasang).
Asumsi II : 500 ekor (250 pasang).
Asumsi III : 500 ekor (250 pasang).
Asumsi IV: 550 ekor (275 pasang).
Tahun 2012
Asumsi I : 3300 ekor (1650 pasang).
Asumsi II : 2750 ekor (1375 pasang).
Asumsi III : 2750 ekor (1375 pasang).
Asumsi IV: 2800 ekor (1400 pasang).
Tahun 2013
Asumsi I : 16800 ekor (8400 pasang).
Asumsi II : 14000 ekor (7000 pasang).
Asumsi III : 14000 ekor (7000 pasang).
Asumsi IV: 14050 ekor (7025 pasang).
Tahun 2014
Asumsi I : 84300 ekor (42150 pasang).
Asumsi II : 70250 ekor (35125 pasang).
Asumsi III : 70250 ekor (35125 pasang).
Asumsi IV: 70300 ekor (35150 pasang).