Saturday, December 27, 2014

MIKROBIOLOGI INDUSTRI : SEJARAH FERMENTASI ROTI

NAMA                       : RISKY NURHIKMAYANI
NIM                            : H41112311
MATA KULIAH      : MIKROBIOLOGI INDUSTRI

Fermentasi Roti

Kata Pengantar
Fermentasi yang terjadi selama pembuatan roti berbeda dengan kebanyakan fermentasi makanan lainnya karena tujuannya bukanlah untuk memperpanjang masa kedaluarsa dari bahan mentah melainkan bagaimana mengubah gandum atau tepung menjadi sesuatu yang dapat dikonsumsi. Faktanya fermentasi roti berbeda dengan fermentasi susu, daging, buah atau wine, dimana pada fermentasi roti material awal menjadi jauh lebih tahan lama dibandingkan produk akhir, bahan mentah dalam pembuatan roti yaitu, gandum sereal, lebih baik untuk disimpan atau diawetkan daripada roti. Hal yang menarik untuk dicatat dalam fermentasi roti, berlawanan dengan fermentasi asam laktat  atau etanol, pada dasarnya tidak satupun dari produk akhir fermentasi primer tetap terkandung dalam makanan.
            Di Amerika Serikat, produksi roti adalah $16 miliyar industry. Meskipun bersifat komersial dan makanan yang penting, namun konsumsi roti secara substansial meningkat seabad yang lalu diibandingkan saat ini. Pada akhir abad ke-19, sebagai contoh, orang Amerika mengonsumsi lebih dari 100 kg tepung terigu (kebanyakan digunakan dalam pembuatan roti) perorang selama setahun, namun mulai terus berkurang selama 100 tahun terakhir pada tahun 1960, saat ini konsumsi perorang hanya dibawah 50 kg perorang selama setahun . Selama tiga puluh tahun kedepan, konsumsi gandum perkapita secara perlahan meningkat, hingga hampir mendekati 70 kg (Gambar 8-1), pada tahun 2000 mengalami sedikit penurunan hingga dibawah 65 kg, mungkin sebagai akibat populernya diet rendah karbohidrat (lebih dari sepertiga orang Amerika menganggap bahwa roti dapat “menggemukkan”).
            Rekomendasi yang diberikan dan disampaikan oleh  USDA’s revised Food Pyramid dan 2005 Dietary Guidelines, salah satu yang diharapkan bahwa konsumsi roti (dan seluruh roti gandum, khususnya) akan mulai meningkat. Beberapa negara sudah memiliki konsumsi roti perkapita yang tinggi, dibandingkan dengan Amerika Serikat (Gambar 8-2), dengan konsumsi tahunan lebih dari 140 kg perorang (lebih dari 0,8 pound per hari).Jika dibandingkan dengan Eropa dan negara lain dengan tingkat konsumsi roti yang tinggi, Amerika menduduki peringkat terbawah untuk konsumsi roti, hanya 25 kg perorang selama setahun (kurang dari 2,5 ons perhari).

Sejarah
Sangat mustahil untuk mengetahui kapan pembuatan roti pertama kali dilakukan. Artefak kuno dan sebuah tulisan yang ditemukan di Timur Tengah menyatakan bahwa roti pertama kali dibuat delapan puluh abad sebelum masehi, tapi sangat mungkin roti telah dapat diproduksi walaupun seribu abad yang lalu. Roti yang pertama kali dibuat kemungkinan adalah roti tawar, dengan sedikit ataupun tanpa ragi (fermentasi), mirip dengan kejadian saat ini di banyak belahan dunia. Sepertinya orang-orang mulai membuat ragi roti pada waktu yang sama ketika mereka mulai membuat produk fermentasi lainnya. Ragi ini ditemukan secara tidak sengaja ketika tepung dan air yang bercampur mengalami kontaminasi dengan ragi liar yang terdapat di udara, menyebabkan adonan yang kenyal berubah menjadi ringan, mengembang, wangi, dan penuh aroma. Mungkin lebih daripada produk fermentasi lainnya, roti memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah dan kebudayaan manusia (Kotak 8-1).
Meskipun jelas dalam peningkatan ukuran dan cakupan industry pembuatan roti, catatan sejarah mengungkapkan bahwa roti pada zaman kuno tidak berbeda dengan roti modern saat ini. Mengingat sederhananya proses pembuatan roti sehingga hasil temuan ini tidak mengejutkan. Bagaimanapun, dalam pembuatan roti hanya diperlukan beberapa bahan, pencampuran yang sederhana dan tahap inkubasi, dan oven untuk memanggang. Pada chapter ini, proses yang mengubah bahan-bahan yang digunakan menjadi sebuah adonan akan dijelaskan secara kimia, fisika dan biologi.
Kotak 8-1. Sejarah dan Kebudayaan
Sebuah kebetulan bahwa sejarah pembuatan roti berhubungan dengan sejarah peradaban manusia. Roti, dalam kutipan sering disebut sebagai “tiang kehidupan” merupakan salah satu prinsip makanan pokok diseluruh dunia, dan terus berlanjut hingga ribuan tahun.
Roti mungkin merupakan salah satu “makanan olahan” yang pertama dan makanan yang pertama kali diproduksi dalam skala besar. Bukti arkeologi (diceritakan dalam Robert, 1995 dan kayu, 1996) mengindikasi bahwa produksi pembuatan roti telah agak canggih dikembangkan di Mesir selama 3,000 tahun sebelum masehi, sebagian besar untuk memberikan nutrisi bagi pekerja yang memerlukan tenaga besar dalam membangun pyramid dan bangunan lainnya.
Roti yang pertama kali dibuat kemungkinan adalah roti tawar yang dikonsumsi bersama selai, yang mana roti yang diproduksi tidak menggunakan ragi. Oleh karena itu, produksi roti dengan menggunakan ragi roti bertepatan dengan pengembangan varietas gandum, seperti emmer dan kamut. Mengingat lingkungan yang mendukung industry ini berkembang, fermentasi adonan disebabkan oleh efek kombinasi jamur dan bakteri. Dibandingkan memanggang roti didalam wajan pada oven, rupanya adonan  dikembangkan  dan dipanggang pada periuk dari tanah liat yang dikelilingi oleh arang yang membara. Namun, penggunaan oven tertutup mulai lazim digunakan pada industry-industri awal yang terlibat.
Pentingnya gandum dan roti dalam perjalanan sejarah manusia jelas tertulis di dalam Alkitab (Bible), dalam literature mitologi, dan catatan sejarah. Osiris, yang merupakan salah satu dewa dunia bawah masyarakat mesir, memiliki tanggung jawab terhadap vegetasi dan pertanian; Neper adalah dewa gandum masyarakat mesir. Selama festival musim semi Thargelia Yunani kuno, roti disajikan kepada dewa mitologi Artemis dan Apollo, sebagai symbol dari buah pertama yang diperoleh dalam setahun serta sebagai tanda terima kasih  tetap menyediakan tanah yang subur.
Berdasarkan cerita kuno Testament, ketika Joseph, anak dari Hebrew partiach Jacob, memprediksi akan datangnya masa paceklik yang akan terjadi di Mesir, Pharaoh memerintahkan agar hasil pertanian gandum disimpan, untuk memastikan tersedianya suplai tepung selama musim paceklik terjadi. Kemudian, ketika budak Habrew melarikan diri dari mesir lebih dari 4,000 tahun yang lalu, eksodus tergesa-gesa tidak memiliki waktu untuk adonan mereka mengembang. Sehingga mereka harus memakan roti tanpa ragi, yang merupakan salah satu bentuk symbol yang dimakan pada saat libur paskah Yahudi. Eucharist, sarkamen katolisme, menunjukkan adanya konsumsi roti selama perjamuan suci. Perjamuan didalam tradisi umat protestan juga menggunakan roti, tapi bukan roti yang menggunakan ragi. Pemberkatan menggunakan roti lazim ditemukan pada banyak situs keagamaan.
Selama era Romawi, pembuat roti memiliki status yang tinggi dan secara umum dihormati. Roti merupakan bahan yang penting bagi masyarakat baik disediakan secara gratis atau yang bersubsidi. Tentawa Romawi juga dilengkapi dengan alat pembuat roti. Teknologi penggilingan (Milling technologies) yang ditemukan dapat memisahkan kulit gandum dari endosperma, yang memungkinkan untuk memproduksi topung roti putih.
Namun, teknologi yang dapat benar-benar memproduksi tepung putih yang baik belum ditemukan hingga tahun 1800-an, ketika roller mill terbalik. Selama berabad-abad, tepung putih memiliki harga yang mahal sehingga hanya digunakan oleh masyarakat kelas atas, sementara tepung yang hitam, dan roti gandum disisakan untuk kaum petani. Pada abad pertengahan, serikat pembuat roti, pelopor serikat buruh, terbentuk di Inggris dan Eropa untuk menetapkan standar kualitas  dan harga yang seimbang. Pada waktu yang sama, undang-undang yang berlaku menstabilkan harga dan berat roti.
Undang-undang ini ada karena beberapa produksi roti terpaksa dipertanyakan, ada atau tidaknya bahan berbahaya, dimana dalam prakteknya biasanya ditambahkan pemutih yang bersifat toksik untuk memutihkan tepung. Taktik jahat ini menyebabkan reputasi pembuat roti menjadi menurun. Di Geoffrey Chauser’s the Miller Tale, satu dari sekian banyak literature, tukang giling hamper tidak digambarkan.
Karena roti merupakan makanan yang penting, tepung/gandum menjadi salah satu produk pertanian yang diproduksi. Selama ribuan tahun, termasuk saat ini ketika produksi gandum menurun, disebabkan oleh cuaca, paceklik dan kelaparan akan terjadi dimana-mana sebagai hasilnya. Kerusuhan politik, embargo perdagangan, dan factor ekonomi lainnya juga memiliki konstribusi dalam produksi tepung dan roti. Buku sejarah dipenuhi dengan instansi yang terlibat dalam pemberontakan, maupun revolusi, terjadi ketika suplai roti sudah tidak tersedia.
Ratu Marie-Antoinette’s dengan komentarnya yang terkenal tentang kekurangan roti yang menyebabkan anak-anak di Prancis kelaparan (“biarkan mereka memakan kue” (let them eat cake)) membuktikan kegagalannya. Pada era modern, Hal ini hanya terjadi pada tahun 1980-an ketika masyarakat membentuk serikat buruh. Situasi ini tidak diragukan lagi berhubungan dengan ketidak puasan masyarakat dan hilangnya kepercayaan pemerintah, kedua factor ini berkonstribusi terhadap penurunan mata uang dollar Amerika.
Kepercayaan terhadap gandum sereal untuk membuat roti sangatlah penting selama musim paceklik dan peperangan, bahkan cetakan penuh gandum digunakan untuk membuat roti. Kasus serupa terjadi di Uni Soviet selama tahun 1930-an  dan 1940-an dan selama perang dunia II, ketika petani tidak tepat waktu untuk memanen gandum, ketika musim dingin yang panjang dan gandum terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh mycotoxin. Konsumsi roti dari tepung yang terkontaminasi dapat menyebabkan ribuan kematian, dan banyak lagi penyakit lainnya. Pad era modern, gandum/tepung digunakan sebagai senjata untuk mengembargo gandum terhadap beberapa musuh Amerika Serikat. Ironisnya, Eropa dan Negara lain di boikot tepung nya oleh Amerika Serikat, jika dihasilkan varietas baru melalui rekayasa genetika ditemukan.



Review Hadalabo Gokujyun Ultimate Moisturizing Lotion

Kali ini saya mau review hadalabo gokujyun ultimate moisturizing lotion untuk kulit kering dan normal. Hasil review ini setelah pemakaian 2 ...