Sunday, February 9, 2014

EKOLOGI UMUM: METODE SAMPLING DAN ANALISIS VEGETASI

LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN VI
METODE SAMPLING DAN ANALISIS VEGETASI
NAMA                          : RISKY NURHIKMAYANI
NIM                               : H41112311
HARI/TANGGAL      : SELASA/ 30 APRIL 2013
KELOMPOK               : 5 (LIMA) B
ASISTEN                     : ANWAR
: YULIANI




LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-­tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Syafei, 1990).
Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup bersama dalam suatu terutama yang mungkin dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponenya. Maupun oleh kombinasi dan struktur sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum atau fungsional. Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis dan juga sintesis sehingga akan membantu dan mendiskripsikan suatu vegetasi sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan (Soerianegara, 1988).
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Untuk mengetahui bagaimana metode sampling dan analisis vegetasi dilakukanlah percobaan ini untuk menentukan vegetasi suatu komunitas dengan menggunakan metode petak tunggal, petak ganda, line transek, belt transek dan metode loop.

I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah :
1.      Untuk mengetahui kepadatan, frekuensi, dan dominasi dari organisme penyusun dalam suatu komunitas dengan menggunakan metode petak tunggal, petak ganda, line transek, belt transek dan metode loop.
2.      Melatih keterampilan mahasiswa  dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis populasi.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 30 April 2013, praktikum dalam laboratorium dilakukan pada pukul 14.00 - 18.00 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar dan  pengambilan data dilakukan di samping Sains Building, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Vegetasi yaitu kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama pada satu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya terdapat interaksi yang erat, baik di antara tumbuh-tumbuhan maupun dengan hewan-hewan yang hidup dalam vegetasi dan lingkungan tersebut. Dengan kata lain, vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu tumbuhan melainkan membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu sama lain, yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Soerianegara, 1988).
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Indriyanto, 2006).
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan (Rani, 2011).
Menurut Kershaw (1979), untuk melakukan analisis vegetasi ada beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu :
1.      Kerapatan (Density)
Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhan lain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung. Secara kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat, kadang - kadang terdapat, sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biomassa populasi persatuan areal atau volume, misalnya 200 pohon per Ha.
2.      Dominasi
Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang, cahaya dan lainnya), sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran banyaknya Individu (abudance) dan kerapatan (density), persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar (LBD) atau basal area (BA), volume, biomassa, dan indek nilai penting (importance value-IV) pada kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalah LBH dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat, yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter breas heigt-dbh).
3.      Frekuensi
Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagaimana pola penyebaran suatu jenis, apakah menyebar ke seluruh kawasan atau kelompok. Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. Frekuensi dapat dikatakan sebagai jumlah petak dimana sampel didapat per jumlah total petak.
4.      Indek Nilai Penting (importance value Indeks)
Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas. Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif, dominasi relatif dan frekuensi relatif, sehingga jumlah maksimalnya 300%. Praktik analisis vegetasi sangat ditunjang oleh kemampuan mengenai jenis tumbuhan (nama). Kelemahan ini dapat diperkecil dengan mengajak pengenal pohon atau dengan membuat herbarium maupun foto yang nantinya dapat diruntut dengan buku pedoman atau dinyatakan keahlian pengenal pohon setempat, ataupun dapat langsung berhubungan dengan lembaga Biologi Nasional Bogor.
Metode  plot  adalah prosedur yang umum digunakan untuk sampling berbagai tipe  organisme.  Plot biasanya berbentuk segiempat atau persegi (kwadrat) ataupun lingkaran.  Metode  ini digunakan untuk sampling tumbuh- tumbuhan, hewan-hewan  sessil  (menetap) atau bergerak  lambat seperti hewan-hewan yang meliang (Rani, 2011).
Menurut Michael (1995), metode plot dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Cara petak tunggal
Menurut cara ini digunakan satu petak (kuadrat) berupa tegakkan hutan sebagai unit sampel. Besar unit sampel tidak boleh terlalu kecil sehingga tidak dapat menggambarkan keadaan hutan yang dipelajari. Ukuran minimum dari petak tunggal tergantung dari kerapatan vegetasi dan banyaknya jenis-jenis pohon. Semakin jarang pepohonan yang ada atau semakin banyak jenis-jenis tumbuhan, semakin besar ukuran kuadrat sebagai petak tunggal yang digunakan. Ukuran minimum ditetapkan dengan menggunakan kurva lengkung spesies. Luas minimum ditetapkan dengan dasar penambahan luas kuadrat yang tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih besar dari 10% atau 5%. Dengan menggunakan kurva lengkung jenis untuk kebanyakan hutan hujan tropika menurut Richard pada umumnya diperlukan petak tunggal seluas 1,5 Ha, sebaliknya menurut vestal rata-rata luas petak tunggal yang diperlukan untuk hutan hujan tropika adalah 3 Ha. Untuk itu unit sampel berbentuk persegi panjang akan lebuh efektif dari pada kuadrat berbentuk bujur sangkar.
2.      Cara petak ganda
Menurut cara ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan banyak kuadrat yang diletakkan tersebar merata dengan secara sistematis. Penentuan besar atau luas unit sampel juga harus ditentukan kurva lengkung jenis. Di Indonesia biasanya digunaka kuadrat berukuran 0,1 Ha untuk pohon, 0,01 untuk anakan pohon sampling dan semak atau 0,001 Ha untuk tumbuh-tumbuhan bawah dan semai (seedling).
Menurut Soerianegara (1988), selain Metode Plot, metode transek biasa digunakan untuk mengetahui vegetasi tertentu seperti padang rumput dan lain-lain atau suatu vegetasi yang sifatnya masih homogen. Terdapat 3 metode transek :
1.      Metode Line Intercept (line transect).
Metode line intercept biasa digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m, 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Pada garis transek itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya bisa 1 m, 5 m, 10 m. pengamatan terhadap tumbuhan dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut. Cara mengukur panjang penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal atau aerial coverage yang terpotong garis transek ketanah.
2.      Metode Belt Transect.
Metode ini biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topograpi, dan elevasi. Transek dibuat memotong garis-garis topograpi, dari tepi laut kepedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek yang umum digunakan adalah 10-20 meter, dengan jarak antar antar transek 200-1000 meter tergantung pada intensitas yang dikehendaki. Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang dikendaki 2 %, dan hutan yang luasnya 1.000 ha intensitasnya 10 %.
3.      Metode Strip Sensus.
Metode ini sebenarnya sama dengan metode line transect, hanya saja penerapannya untuk mempelajari ekologi vertebrata teresterial (daratan). Metode strip sensus meliputi, berjalan disepanjang garis transek, dan mencatat spesies-spesies yang diamati disepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks kepadatan).
Menutut Irwanto (2009), salah satu metode yang digunakan untuk melakukan analisis kuantitatif tumbahan adalah dengan metode Loop. Metode ini digunakan untuk rerumputan dan herba yang mana prosedurnya sebagai berikut:
a.       Dibuat lingkaran kecil (loop) dengan diameter 2 cm.
b.      Tentukan titik secara random, kemudian dari titik itu dibuat jalur sepanjang 33,5 m.
c.       Pada setiap 1 meter titik observasi ditandai pada tempat sentimeter yang ke 33, 66 dan 100. Jadi setiap 1 meter ada 3 titik observasi, dan pada jarak 33 meter ada 99 titik observasi.
d.      Titik yang 100 terletak pada jarak 33,33 meter.
e.       Kemudian disetiap titik observasi (loop) dijatuhkan (diletakkan) dan dicatat spesies yang berada di dalam lingkaran.
Pada dasarnya hampir semua kegiatan pengukuran untuk analisis vegetasi dilakukan pengukuran terhadap jenis-jenisnya, kerapatan atau jumlah individu per jenis, frekuensi kehadirannya, diameter batang atau luas penutupan tajuk dan tinggi pohon. Walaupun demikian, parameter vegetasi yang diukur akan tergantung pada informasi yang dikehendaki dan tujuan penelitian (Wolf, 1990).



BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini diantaranya patok panjang 1 meter, tali rafia ½ km, lingkaran dari tutup gelas aqua, dan penggaris.

III.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tumbuhan yang terdapat di dalam plot.

III.3 Metode Kerja
            Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam percobaan ini sebagai berikut:
1.      Cara pengambilan data :
A.    Metode Petak Tunggal
a.       Pertama, areal yang akan diamati populasinya ditentukan, kemudian plot berukurann 1 x 1 m diletakkan di areal tersebut.
b.      Semua tumbuhan yang ada dalam plot tersebut dihitung jumlahnya dan ditentukan jenisnya.
c.       Pengambilan data dilakukan sebanyak 1 kali tanpa pengulangan.
B.     Metode Petak Ganda
a.       Pertama, areal yang akan diamati populasinya ditentukan, kemudian plot berukurann 20 x 10 cm diletakkan di areal tersebut.
b.      Semua tumbuhan yang ada dalam plot tersebut dihitung jumlahnya dan ditentukan jenisnya.
c.       Pengambilan data dilakukan sebanyak 5 kali pada tempat yang berbeda.
C.     Metode Line Transek
a.       Pertama, areal yang akan diamati populasinya ditentukan, kemudian tali sepanjang 10 m dibentangkan memanjang.
b.      Semua tumbuhan yang ada di bawah tali tersebut dihitung dan di tentukan jenisnya.
c.       Pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali pada tempat yang berbeda.
D.    Metode Belt Transek
a.       Pertama, areal yang akan diamati populasinya ditentukan, kemudian tali dibentangkan sepanjang 30 m.
b.      Setelah itu pada bagian lebarnya dibentangkan tali sepanjang 10 m.
c.       Plot yang berukuran 30 x 10 m ini kemudian di bagi 3 menjadi 3 bagian 10 x 10 m.
d.      Semua tumbuhan dalam hal ini pohon yang ada di bagian plot pertama dan plot ketiga dihitung dan dianalisis jenisnya.
e.       Plot kedua tidak dihitung dengan asumsi bahwa vegetasi pada lokasi yang berdekatan hampir sama sehingga tidak perlu di amati karena akan menghasilkan hasil yang serupa dengan plot disampingnya.
E.     Metode Loop
a.       Pertama, areal yang akan diamati populasinya ditentukan, kemudian tali dibentangkan sepanjang 33,3 m dan diberi titik .
b.      Tiap 33,3 cm dilakukan pengamatan dengan cara menempatkan lingkaran (tutup gelas aqua) di titik tersebut.
d.      Kemudian semua tumbuhan yang ada di dalam lingkaran tersebut dihitung dan ditentukan jenisnya.
e.       Pengambilan data dilakukan sebanyak 100 kali pada tiap 33,3 cm dari titik sebelumnya.
2.      Cara kerja di laboratorium :
A.    Metode Petak Tunggal
a.         Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan beberapa parameter.
b.         Parameter yang diukur adalah kerapatan, frekuensi, dominasi, beserta indeks nilai penting.
B.     Metode Petak Ganda
a.         Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan beberapa parameter.
b.         Parameter yang diukur adalah kerapatan, frekuensi, dominasi, beserta indeks nilai penting.
C.     Metode Line Transek
a.         Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan beberapa parameter.
b.         Parameter yang diukur adalah kerapatan, frekuensi, dominasi, beserta indeks nilai penting.
D.    Metode Belt Transek
a.         Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan beberapa parameter.
b.         Parameter yang diukur adalah kerapatan, frekuensi, dominasi, beserta indeks nilai penting.
E.     Metode Loop
a.         Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan beberapa parameter.
b.         Parameter yang diukur adalah kerapatan, frekuensi, dominasi, beserta indeks nilai penting.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil Percobaan
IV.1.1 Hasil Pengamatan Menggunakan Metode Plot Tunggal
Tabel 1 Data Vegetasi dengan Menggunakan Metode Plot Tunggal
Plot
Spesies
Jumlah
A
B
1
4
225
229
Total Individu
4
225
229
IV.1.2 Hasil Pengamatan Menggunakan Metode Plot Berganda
Tabel 2 Data Vegetasi dengan Menggunakan Metode Plot Berganda
Plot
Spesies
Jumlah
A
B
C
D
E
1
1
8
-
1
2
12
2
1
3
-
-
-
4
3
1
2
1
-
-
4
4
-
4
2
-
1
7
5
-
9
-
-
-
9
Total Individu
3
26
3
1
3
36



IV.1.3 Hasil Pengamatan Menggunakan Metode Line Transek
Tabel 3 Data Vegetasi dengan Menggunakan Metode Line Transek
Transek ke
Spesies
Jumlah
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
1
3
38
8
-
-
9
-
4
-
-
10
72
2
-
32
-
-
2
-
-
-
1
-
5
40
3
-
-
11
-
-
-
6
9
-
4
4
34
Total Individu
3
70
19
-
2
9
6
13
1
4
19
146
IV.1.4 Hasil Pengamatan Menggunakan Metode Belt Transek
Tabel 4 Data Vegetasi dengan Menggunakan Metode Belt Transek
Transek ke
Spesies
Jumlah
GBD
DBH
A
B
C
A
(cm)
B
(cm)
C
(cm)
A
(cm)
B
(cm)
C
(cm)
1
1
1
1
3
60
17
114
19,1
5,4
36,3
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Total Individu
1
1
1
3
60
17
114
19,1
5,4
36,3
IV.1.5 Hasil Pengamatan Menggunakan Metode Loop
Tabel 5 Data Vegetasi dengan Menggunakan Metode Loop
Loop ke
Spesies
Jumlah
A
B
C
1
2
-
-
2
2
1
-
-
1
3
1
-
-
1
4
-
2
-
2
5
-
1
-
1
6
-
3
-
3
7
-
-
-
-
8
-
3
-
3
9
-
1
-
1
10
-
-
-
-
11
-
-
-
-
12
-
-
-
-
13
-
2
-
2
14
-
4
-
4
15
-
2
-
2
16
-
-
-
-
17
-
1
-
1
18
-
-
-
-
19
-
-
-
-
20
-
-
-
-
21
-
-
-
-
22
-
-
-
-
23
-
-
-
-
24
-
-
-
-
25
-
1
-
1
26
-
1
-
1
27
-
-
-
-
28
-
-
-
-
29
-
1
-
1
30
-
3
-
3
31
-
1
-
1
32
-
1
-
1
33
-
-
-
-
34
-
1
-
1
35
-
1
-
1
36
-
-
-
-
37
-
-
-
-
38
-
1
-
1
39
-
2
-
2
40
-
-
-
-
41
-
1
-
1
42
-
1
-
1
43
-
1
-
1
44
-
1
-
1
45
-
3
-
3
46
-
-
-
-
47
-
1
-
1
48
-
-
-
-
49
-
-
-
-
50
-
-
-
-
51
-
1
-
1
52
-
1
-
1
53
-
-
-
-
54
-
-
-
-
55
-
-
-
-
56
-
-
-
-
57
-
-
-
-
58
-
1
-
1
59
-
-
-
-
60
-
-
-
-
61
-
-
-
-
62
1
-
-
1
63
-
-
-
-
64
-
-
-
-
65
-
-
-
-
66
-
-
-
-
67
-
-
-
-
68
-
-
-
-
69
-
-
-
-
70
-
-
-
-
71
-
-
-
-
72
-
-
-
-
73
-
-
-
-
74
-
-
-
-
75
-
-
-
-
76
-
-
-
-
77
-
-
-
-
78
-
-
-
-
79
-
-
-
-
80
-
-
-
-
81
-
-
-
-
82
-
-
-
-
83
-
-
-
-
84
-
-
-
-
85
-
-
1
1
86
-
-
-
-
87
-
-
-
-
88
1
-
-
1
89
-
-
-
-
90
-
-
1
1
91
-
-
-
-
92
-
-
-
-
93
-
-
-
-
94
-
-
-
-
95
-
-
-
-
96
-
-
-
-
97
-
-
-
-
98
-
-
-
-
99
-
-
-
-
100
-
-
-
-
Total Individu
6
43
2
51




DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara,  Jakarta.

Irwanto, 2009. Analisis Vegetasi Parameter Kuantitatif. http://www.irwanto shut.net. Diakses pada hari Kamis, 2 Meil 2013 pukul 19.30 WITA.

Michael, P., 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Rani, C., 2011. Metode Pengukuran dan Analisis Pola Spasial (Dispersi) Organisme  Bentik. http://respository.unhas.ac.id. Diakses pada hari Kamis, 2 Mei 2013 pukul 21.00 WITA.

Kershaw, K. A., 1979. Quantitatif and Dynamic Plant Ecology, Edward Arnold Publishers, London.

Soerianegara, I.  dan Indrawan, A., 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Syafei, 1990. Dinamika Populasi: Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.


Wolf, L. dan Mc Naughton, S. J., 1990.  Ekologi Umum.  Universitas Gajah Mada Press, Jogjakarta.

Review Hadalabo Gokujyun Ultimate Moisturizing Lotion

Kali ini saya mau review hadalabo gokujyun ultimate moisturizing lotion untuk kulit kering dan normal. Hasil review ini setelah pemakaian 2 ...